NESIARAYA - Masih ingat kejadian ditemukannya sebuah mobil Honda Mobilio berwarna putih di dalam hutan Desa Mundu Kecamatan Ngambon Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur tanpa supir dan penumpang pada 14 Juni 2017. Hari ini tim gabungan dari BPBD Bojonegoro Koramil Ngambon dan Polsek Ngambon berhasil menemukan mayat yang ditenggarai si supir mobil yang terperosok ditengah hutan tersebut. Minggu 02/07/2017
Pria bernama Ali Mukti atau supir dari mobil honda mobilio nopol W 683 C misterius tersebut ditemukan di jurang sungai bawah kurang lebih 700 m dari ditemukannya mobil di tengah hutan Desa Mundu Kecamatan Ngambon.
Supir ditemukan dengan keadaan sudah meninggal dunia dengan luka tangan kanan hampir putus dan leher diikat sehingga setelah evakuasi akan dilakukan pemeriksaan.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, dari hasil pemeriksaan terhadap nomor kendaraan mobil tersebut. Didapati nama pemilik kendaraan adalah Arifin, warga Desa Golokan Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik namun mobil ini dipergunakan untuk penyewaan, dan digunakan oleh seorang pria bernama Ali mukti.
"Pada hari Senin lalu (12/6), Ali diperintahkan untuk menjemput penumpang ke bandara. Namun ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi," kata Kasubbag Humas Polres Bojonegoro AKP Mashadi. (May/Red
KANGEN IBU, PALEMBANG MERAK DITEMPUH DENGAN MENGAYUH SEPEDA
Tiga Bersaudara nekad melakukan perjalanan dengan menggunakan dua sepeda miliknya dari Palembang menuju Ciledug, Tangerang, Banten, ketiganya nekad bersepeda lantaran kangen ingin bertemu dan ingin Berlebaran dengan sang ibu yang sudah berpisah hampir satu tahun.
Ketiga bocah bersaudara yang nekad melalukan perjalanan dengan menggunakan sepeda bernama, Aslam, SD (10Th), Rijal, SD (13Th), dan Okta, SMP (15Th).
Mereka bertiga nekad melakukan perjalanan bersepeda dari kampung halamannya di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, lantaran tak kuasa menahan kangen dan ingin berlebaran dengan ibunya.
Okta (15Th) menuturkan jika dirinya besera dua saudaranya ini sudah satu tahun pisah dengan ibunya. Dirinya dan dua saudaranya dibawa sang ayah yang menikah lagi usai bercerai dengan ibunya. Perjalan mereka bertiga dari Palembang – Lampung yang berjarak ratusan kilo meter, keduanya mengayun sepeda tanpa lelah dan satunya lagi berbonceng dibelakang.
Mereka bertiga mengaku jika sudah melakukan perjalan pada saat malam takbiran, atau H-1 lebaran, hingga akhirnya tiba di pelabuhan Merak Banten Kamis malam, (29/06/2017) menggunakan Kapal Ro-Ro Jatra II dari Bakauheni Lampung. Ketiga bocah ini nekad mudik bersepeda lantaran terpisah jauh dengan sang ibu dan ingin berlebaran dengan sang Ibu.
“Kami kangen ibu, pengen lebaran dengan ibu, sudah lama gak ketemu soalnya hampir satu tahun,” tutur Okta.
Mereka bertiga kerap tidur di kios-kios pinggir jalan untuk beristirahat, dan rasa lapar menghampiri ketinganya hanya membeli nasi bungkus dengan lauk kecap manis lantaran keterbatasan biaya. Hal ini disebabkan karena ketinganya hanya dibekali sangu dari sang Neneknya di Palembang sebesar 150 ribu rupiah.
Humas ASDP Pelabuhan Merak, Mario S. Oetomo menjelaskan mereka bertiga ditemui oleh pihak ASDP Pelabuhan Bakauheni Lampung saat hendak membeli tiket, mereka akhirnya di bawa oleh Pihak ASDP Bakauheni dan diberi makan dan uang saku, serta didampingi petugas hingga menyebrang ke Pelabuhan Merak.
“Ketiganya didampingi untuk selanjutnya akan diantarkan sampai tujuannya menggunakan kendaraan pribadi milih ASDP Pelabuhan Merak,” pungas Mario.
Meski telah delapan kali gagal saat mengikuti tes masuk polisi dan TNI, tak membuat Bayu Arsyifa Rahmadi putus asa. Dia kembali memberanikan diri masuk polisi dan usahanya terwujud bahkan menyandang sebagai lulusan terbaik.
Predikat itu diraih Bayu, sapaan akrabnya, setelah mengikuti pendidikan di SPN Betung, Banyuasin, Sumsel, dan resmi dilantik menjadi anggota polisi berpangkat Bripda, Selasa (7/3) kemarin. Bayu meraih peringkat pertama dari 230 siswa. Sementara saat pengumuman polisi dari jalur Bintara tahun 2016 lalu, posisi Bayu berada di urutan 215.
Kagum dengan prestasi itu, Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto, memanggil Bayu beserta kedua orangtuanya untuk menghadap. Hal ini membuat Abimanyu dan Endang, orangtua Bayu, bangga. Kepada wartawan, Bayu mengaku tak menyangka meraih predikat itu. Sebab, dia telah delapan kali mengikuti tes polisi maupun TNI yang semuanya berujung kegagalan.
"Alhamdulillah walaupun tidak nyangka. Rata-rata saya tidak lolos di tes terakhir, ada juga pas pantohir," ungkap Bayu di Mapolda Sumsel, Rabu (8/3).
Pengalaman kegagalan dijadikan remaja kelahiran 2 Januari 1996 itu modal untuk tes berikutnya. Fisik dan mental dipersiapkan dengan matang termasuk mendalami soal-soal tertulis.
"Sebelum ikut tes tiap pagi lari, renang, olah raga begitu. Untuk akademiknya saya belajar terus, cari kesalahan kemarin," ujarnya.
Selama menempuh pendidikan, putra kedua dari seorang mantan sekuriti salah satu bank swasta di Palembang itu, dipercaya menjadi komandan resimen. Hal ini lantaran terlihat jiwa kepemimpinan yang dimilikinya.
"Tidak enak juga, sama-sama siswa tapi saya disuruh jadi komandan," kata dia.
Ayah Bayu, Abimanyu mengatakan, anaknya itu masuk polisi tanpa dipungut biaya, kecuali untuk keperluan fotocopy berkas saat pendaftaran. Menjadi polisi ada cita-citanya sejak kecil sehingga selalu ikut tes meski gagal.
"Dari sekolah memang rangking terus, jadi ketua OSIS, anggota Paskibra Sumsel. Memang terlihat dari kecil jiwa militernya," kata dia.
Sementara itu, Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengungkapkan, Bripda Bayu menjadi contoh bagi masyarakat untuk tidak terperdaya dengan iming-iming oknum tertentu yang menjanjikan bisa meloloskan dengan permintaan sejumlah uang. Kecakapan dan kemampuan fisik serta mental menjadi prioritas untuk menjadi abdi negara.
"Bayu ini jadi bukti, bisa masuk polisi tanpa mengeluarkan duit, jadi lulusan terbaik lagi. Ini bisa jadi pelajaran masyarakat yang ingin jadi polisi," pungkasnya.
Siswi SMK di Maumere Diperkosa Sepulang dari Gereja
Rabu, 2017 23:33 WIB
Laporan Wartawan Pos Kupang, Eugenius Mo'a yaqintruzz.blogsot.com . MAUMERE -- Ulah pelaku pemerkosaan tidak mengenal waktu dan tempat.
Pemerkosaan menimpa YM (17), siswi salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, berlangsung Minggu (9/4/2017) ketika YM pulang mengikuti misa di gereja.
Dalam perjalanan pulang, YM bertemu Sila, teman Yoseph Wula mengendarai sepeda motor Honda Revo.
Sila menawarkan jasa tumpangan mengantar YM ke rumah Yoseph Wula.
Tidak berapa lama berada di rumah pelaku, YM pamit pulang. Yoseph Wula menawarkan mengantarnya pulang, tak ditanggapi YM.
Ia jalan kaki menuju ke rumahnya.
Dalam perjalanan menuju rumahnya dekat Dusun Bisitio, Desa Masebewa, Yoseph Wula muncul dari arah belakang.
Pria tanggung itu menarik paksa lengan YM ke semak-semak dan memperkosanya selama tiga kali.
Puas melepaskan dahaga seksual, Yoseph pulang ke rumahnya meninggalkan YM di semak-semak.
cerpen Kisah Kebohongan Ibu yang Membuat Kita Menangis (kita merenung sedikit ya memberku tercinta!)
Sebuah kisah membuat saya langsung menangis.
PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan. Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : ”Makanlah nak ibu tak lapar.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : “Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ibu tak haus!!”
PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu. Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : “Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM.
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : “Jangan susah-susah, ibu ada uang.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; “Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang.”
PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN .
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : “Jangan menangis nak, ibu tak sakit.”
Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali.
Anda beruntung karena masih mempunyai ibu dan ayah. Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau ibu anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, ‘Ibu,saya sayang ibu.’ Tapi tidak saya, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu…..ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜